Sebagai bagian dari pelaksanaan program kerja pariwisata dan budaya di Nagari Kinari, mahasiswa KKN Universitas Andalas telah melaksanakan wawancara mendalam bersama Bundo Kanduang setempat. Kegiatan ini bertujuan untuk menggali, mendokumentasikan, serta melestarikan kekayaan tradisi lokal, dengan fokus utama mengangkat prosesi adat Mamadak (memandikan bayi) di Nagari Kinari.
Dalam kesempatan tersebut, Bundo Kanduang menjelaskan secara keseluruhan terkait rangkaian tradisi mamadak, mulai dari tahap manganyingau saat bayi berusia 3 hingga 4 hari, proses batanak nasi, kedatangan rombongan induak bako yang membawa kelapa bertangkai serta ayam jantan atau betina, hingga pelaksanaan pemandian bayi di mujan atau batang aia. Beliau turut memaparkan makna filosofis di balik berbagai atribut adat, seperti penggunaan gelang rumput serut berbalut kunyit, makna filosofis bareh randang bagi bayi laki-laki dan bareh babiak bagi bayi perempuan, serta diakhiri dengan prosesi penutup batagua.
Lebih lanjut, Bundo Kanduang menyampaikan bahwa tradisi mamadak tidak bersifat wajib, namun sangat dianjurkan karena memiliki nilai sosial yang luhur. Tradisi ini berfungsi sebagai sarana mengumumkan kehadiran keturunan baru kepada khalayak luas sekaligus mempererat tali silaturahmi serta semangat gotong royong di tengah masyarakat. Beliau juga menjelaskan adanya penyesuaian yang wajar seiring perkembangan zaman tanpa menghilangkan makna aslinya, seperti penggantian katidiang dengan cawan perak baka serta penggunaan kertas nasi sebagai pengganti daun enau.
Demikian berita acara wawancara ini disusun dengan sebenarnya di Nagari Kinari sebagai bentuk dokumentasi resmi atas pelaksanaan program kerja pariwisata dan budaya mahasiswa KKN Universitas Andalas dalam upaya menjaga pelestarian adat istiadat Minangkabau.